Kamis, 03 April 2014

MEMBUAT SABUN KELOR ( MORINGA)

PEWARNA HERBAL

Natural dyes are dyes or colorants derived from plants, invertebrates, or minerals. The majority of natural dyes are vegetable dyes from plant sources—roots,berries, bark, leaves, and wood—and other organic sources such as fungi and lichens.

Archaeologists have found evidence of textile dyeing dating back to the Neolithicperiod. In China, dyeing with plants, barks and insects has been traced back more than 5,000 years. The essential process of dyeing changed little over time. Typically, the dye material is put in a pot of water and then the textiles to be dyed are added to the pot, which is heated and stirred until the color is transferred. Textilefibre may be dyed before spinning ("dyed in the wool"), but most textiles are "yarn-dyed" or "piece-dyed" after weaving. Many natural dyes require the use of chemicals called mordants to bind the dye to the textile fibres; tannin from oak galls, salt, natural alum, vinegar, and ammonia from stale urine were used by early dyers. Many mordants, and some dyes themselves, produce strong odors, and large-scale dyeworks were often isolated in their own districts.

Throughout history, people have dyed their textiles using common, locally available materials, but scarce dyestuffs that produced brilliant and permanent colors such as the natural invertebrate dyes, Tyrian purple and crimson kermes, became highly prized luxury items in the ancient and medieval world. Plant-based dyes such as woad (Isatis tinctoria), indigosaffron, and madder were raised commercially and were important trade goods in the economies of Asia and Europe. Across Asia and Africa, patterned fabrics were produced using resist dyeing techniques to control the absorption of color in piece-dyed cloth. Dyes such as cochineal and logwood (Haematoxylum campechianum) were brought to Europe by the Spanish treasure fleets, and the dyestuffs of Europe were carried by colonists to America.
The discovery of man-made synthetic dyes in the mid-19th century triggered a long decline in the large-scale market for natural dyes. Synthetic dyes, which could be produced in large quantities, quickly superseded natural dyes for the commercial textile production enabled by the industrial revolution, and unlike natural dyes, were suitable for the synthetic fibres that followed. Artists of the Arts and Crafts Movement preferred the pure shades and subtle variability of natural dyes, which mellow with age but preserve their true colors, unlike early synthetic dyes, and helped ensure that the old European techniques for dyeing and printing with natural dyestuffs were preserved for use by home and craft dyers. Natural dyeing techniques are also preserved by artisans in traditional cultures around the world.


In the early 21st century, the market for natural dyes in the fashion industry is experiencing a resurgence. Western consumers have become more concerned about the health and environmental impact of synthetic dyes in manufacturing and there is a growing demand for products that use natural dyes. The European Union, for example, has encouraged Indonesian batik cloth producers to switch to natural dyes to improve their export market in Europe

Types of Natural Dyes
Natural dyes can be sorted into three categories: natural dyes obtained from plants (indigo), those obtained from animals (cochineal), and those obtained from minerals (ocher). Although some fabrics such as silk and wool can be colored simply by being dipped in the dye, others such as cotton, require a mordant.
A mordant is an element which aids the chemical reaction that takes place between the dye and the fiber so that the dye is absorbed. Containers used for dying must be non-reactive (enamel, stainless steel.) Brass, copper or iron pots will do their own mordanting. Not all dyes need mordants to help them adhere to fabric. If they need no mordants, such as lichens and walnut hulls, they are called substantive dyes. If they do need a mordant, they are called adjective dyes.

Common mordants are: ALUM, usually used with cream of tartar, which helps evenness and brightens slightly; IRON (or copperas) which saddens or darken colors, bringing out green shades; TIN, usually used with cream of tartar, which blooms or brightens colors, especially reds, oranges and yellows; BLUE VITRIOL which saddens colors and brings out greens and TANNIC ACID used for tans and browns.

Natural dyes obtained from plants
One example of a natural dye obtained from plants is madder, which is obtained from the roots of the madder plant. The plants are dug up, the roots washed and dried and ground into powder. During the 19thcentury, the most widely available fabrics were those which had been dyed with madder. The 'turkey red’ that was so popular at that time, was based on madder. This red was considered brilliant and exotic. The madder plant continued to be used for dyeing until the mid-1800s when a synthetic substitute was developed.
Another example of a natural dye obtained from plants is woad. Until the Middle Ages, Europeans used woad to create a blue fabric dye. The woad was a shrub that grew abundantly in parts of Europe. The coloring was in the leaves, which were dried and ground, mixed with water and made into a paste. This dye was supplanted by indigo, an ancient shrub well known to the Egyptians and Indians. Like woad, its color lay in its leaflets and branches. The leaves were fermented, the sediment purified, and the remaining substance was pressed into cakes. 
Indigo prevailed as the preferred blue dye for a number of reasons. It is a substantive dye, needing no mordant, yet the color achieved is extremely fast to washing and to light. The manufacture of natural indigo lasted well into the early 1900s.

In 1905 Adolf von Baeyer (the scientist who also formulated aspirin) was awarded the Nobel Prize for discovering the molecular structure of indigo, and developing a process to produce it synthetically. The natural dye was quickly replaced by the new synthetic, ending an ancient and honored botanical history.

Plant:
Catechu or Cutch tree (brown)
Gamboge tree resin (dark mustard yellow)
Himalayan rubhada root (yellow)
Indigofera plant (blue)
Kamala tree (red)
Larkspurplant (yellow)
Madder root (red, pink, orange)
Myrabolan fruit (yellow, green, black)
Pomegranate peel (yellow)
Weld herb (yellow)

Pewarna alami merupakan bahan pewarna yang bahan-bahannya banyak diambil dari tumbuh-tumbuhan, dapat digunakan untuk memberikan penampilan yang menarik pada makanan atau minuman. Bahan pewarna alami yang banyak digunakan dan berikut cara membuatnya:
  1. Daun suji mengandung zat warna klorofil untuk memberi warna hijau menawan, misalnya pada dadar gulung, kue bika, atau kue pisang. Daun suji biasa dipakai sebagai pemberi warna hijau pada makanan. Karena keindahan bentuk daunnya, tanaman ini seringkali digunakan sebagai tanaman hias. Agar lebih sempurna, daun suji seringkali dicampur dengan daun pandan sehingga selain memberi warna sekaligus juga memberi aroma harum pada makanan, kue dan minuman Anda.
    Cara membuatnya: iris halus daun suji dan daun pandan, haluskan dengan cara ditumbuk atau diblender, peras, dan saring, lalu tambahkan air kapur sirih sebagai pengawetnya. Masukkan ke dalam botol tertutup, lalu simpan di lemari es.
  2. Secang (Caesalpinia sappan L.) adalah tanaman berkayu yang biasa dimanfaatkan bagian batangnya.
    Cara menggunakannya, batang basah diserut dan dikeringkan. Serutan batang kayu secang kering direbus dengan air dan disaring, baru dicampurkan ke dalam adonan atau bahan yang akan diwarnai. Secang memberikan warna merah. Kayu secang dapat diperoleh di toko yang menjual jamu tradisional.
  3. Keluak , bentuk buah keluak ini menyerupai segitiga yang tumpul ujung-ujungnya. Berkulit keras, berwarna abu-abu, dan daging buahnya lunak berwarna cokelat tua kehitaman. Nah, yang dipakai sebagai bumbu dan pewarna adalah bagian dalam yang lunak ini, rasanya sedikit asam, tetapi yang muda rasanya sangat pahit. Triknya, saat membeli pilih yang ringan, goyang-goyangkan keluak, jika terdengar isi yang berguncang berarti keluak berumur cukup tua. Memarkan kulit keluak yang keras, ambil isinya yang lunak dan haluskan bersama bumbu lain. Agar lebih awet simpan keluak bersama dengan kulitnya.
  4. Merang, Air merang atau air abu merang adalah pewarna hitam alami. Diperoleh dengan cara membakar merang kering hingga menjadi abu, lalu merendamnya dalam air. Air abu merang ini biasanya digunakan untuk mewarnai makanan/kue, seperti jongkong Surabaya, bubur suro khas Madura, dll.  Pilih merang yang telah kering benar berwarna kuning agak kecokelatan, kemudian bakar hingga menjadi abu. Untuk 100 gr abu merang, larutkan dengan 250 ml air. Diamkan hingga abu merang mengendap dan airnya hitam jernih. Air abu merang inilah yang digunakan.
  5. Bunga Telang, merupakan tanaman perdu yang tumbuh merambat dan berasal dari kuntum bunga. Cuci bunga talang, remas-remas 5-10 kuntum bunga talang dengan 4-5 sendok makan air lalu saring. Air yang berwarna biru keunguan inilah yang dipakai untuk pewarna makanan atau kue. Cara lain, dengan merebus 20 kuntum bunga telang dalam air secukupnya hingga layu, angkat, biarkan dingin dan saring.
  6. Buah Bit, Buah berwarna merah tua ini mengandung vitamin A (karotenoid), vitamin B1, B2, vitamin C, dan asam folat. Manfaatnya antara lain membantu mengobati penyakit hati dan empedu, penghancur sel kanker dan tumor, mencegah anemia, menurunkan kolesterol, dan membantu produksi sel darah merah.Bit banyak digunakan sebagai bahan pewarna alami makanan. Olah dengan cara mengupas bit, potong-potong kasar, beri sedikit air lalu proses halus dalam blender . Hasil saringannya adalah air yang berwarna merah inilah yang dipakai untuk memberi warna merah pada masakan atau kue.
  7. Buah kakao merupakan penghasil cokelat dan memberikan warna cokelat pada makanan, misalnya es krim, susu cokelat, atau kue kering.
  8. Kunyit (Curcuma domestica) mengandung zat warna kurkumin untuk memberi warna kuning pada makanan, misalnya tahu, bumbu Bali, atau nasi kuning. Selain itu, kunyit dapat mengawetkan makanan. Warna kuning dari kunyit diperoleh dengan cara diparut sampai halus, diperas atau dicampurkan langsung ke makanan.
  9. Cabai merah, selain memberi rasa pedas, juga menghasilkan zat warna kapxantin yang menjadikan warna merah pada makanan, misalnya rendang daging atau sambal goreng.
10.  Wortel, beta-karoten (provitamin-A) pada wortel menghasilkan warna kuning. Wortel bermanfaat dalam menurunkan kadar kolesterol dalam darah, serta membantu pertahanan tubuh dari resiko kanker, terutama kanker peru-paru, kanker larynx (tenggorokan), esophagus (kerongkongan), prostat, kandung kemih, dan leher rahim.
   11.  Gula merah, selain sebagai pemanis juga memberikan warna cokelat pada makanan, misalnya   pada bubur dan dodol. Selain contoh di atas, beberapa buah-buahan juga dapat menjadi bahan   pewarna alami, misalnya anggur menghasilkan warna ungu, stroberi warna merah, dan tomat warna oranye

METODE EKSTRAK HERBAL UNTUK SABUN

secara umum sediaan herbal merupakan metode untuk menghantarkan herbal atau mengherbalkan suatu daerah permukaan tubuh. Kebanyakan sifat sediaan herbal sebagai kandungan utamanya tergantung dari cara pembuatan dan tujuan sediaan itu sendiri.

Ada berbagai jenis sediaan herbal dan pengetahuan bagaimana untuk menyiapkannya merupakan keahlian seorang herbalis. berikut adalah berbagai petunjuk produk herbal dan sediaannya, bahasan berikut mengandung informasi lengkap tentang berbagai sediaan, bagaimana dibuat, sejarhnya digunakan untuk apa dan jenis kandungan yang digunakan.

Untuk memudahkan dalam proses produksi sediaan herbal dilakukan suatu proses ekstraksi. Ekstraksi merupakan proses pemisahan bahan dari campurannya dengan menggunakan pelarut. Dengan melalui ekstraksi, zat-zat aktif yang ada dalam simplisia akan terlepas.

Terdapat beberapa istilah yang perlu dietahui berkaitan dengan proses ekstraksi antara lain:
· Ekstraktan/menstrum: pelarut/campuran pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi
· Rafinat: sisa/residu dari proses ekstraksi
Dalam proses ekstraksi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
· Jumlah simplisia yang akan diesktrak
· Derajat kehalusan simplisia
Semakin halus, luas kontak permukaan akan semakin besar sehingga proses ekstraksi akan lebih optimal. 

Jenis pelarut yang digunakan
Jenis pelarut berkaitan dengan polaritas dari pelarut tersebut. Hal yang perlu diperhatikan dalam proses ekstraksi adalah senyawa yang memiliki kepolaran yang sama akan lebih mudah tertarik/ terlarut dengan pelarut yang memiliki tingkat kepolaran yang sama. Berkaitan dengan polaritas dari pelarut, terdapat tiga golongan pelarut yaitu:
- Pelarut polar
Memiliki tingkat kepolaran yang tinggi, cocok untuk mengekstrak senyawa-senyawa yang polar dari tanaman. Pelarut polar cenderung universal digunakan karena biasanya walaupun polar, tetap dapat menyari senyawa-senyawa dengan tingkat kepolaran lebih rendah. Salah satu contoh pelarut polar adalah: air, metanol, etanol, asam asetat.
- Pelarut semipolar
Pelarut semipolar memiliki tingkat kepolaran yang lebih rendah dibandingkan dengan pelarut polar. Pelarut ini baik untuk mendapatkan senyawa-senyawa semipolar dari tumbuhan. Contoh pelarut ini adalah: aseton, etil asetat, kloroform
- Pelarut nonpolar
Pelarut nonpolar, hampir sama sekali tidak polar. Pelarut ini baik untuk mengekstrak senyawa-senyawa yang sama sekali tidak larut dalam pelarut polar. Senyawa ini baik untuk mengekstrak berbagai jenis minyak. Contoh: heksana, eter 
Beberapa syarat-syarat pelarut yang ideal untuk ekstraksi: 

- Tidak toksik dan ramah lingkungan
- Mampu mengekstrak semua senyawa dalam simplisia
- Mudah untuk dihilangkan dari ekstrak
- Tidak bereaksi dengan senyawa-senyawa dalam simplisia yang diekstrak
- Murah/ ekonomis
· Lama waktu ekstraksi 

Lama ekstraksi akan menentukan banyaknya senyawa-senyawa yang terambil. Ada waktu saat pelarut/ ekstraktan jenuh. Sehingga tidak pasti, semakin lama ekstraksi semakin bertambah banyak ekstrak yang didapatkan. 

· Metode ekstraksi, termasuk suhu yang digunakan
Terdapat banyak metode ekstraksi. Namun secara ringkas dapat dibagi berdasarkan penggunaan panas sehingga ada metode ekstraksi dengan cara panas, serta tanpa panas. Metode panas digunakan jika senyawa-senyawa yang terkandung sudah dipastikan tahan panas. Metode ekstraksi yang membutuhkan panas antara lain:
- Dekok
Ekstraksi dilakukan dengan solven air pada suhu 90°-95°C selama 30 menit.
- Infus
Hampir sama dengan dekok, namun dilakukan selama 15 menit.
- Refluks
Dilakukan dengan menggunakan alat destilasi, dengan merendam simplisia dengan pelarut/solven dan memanaskannya hingga suhu tertentu. Pelarut yang menguap sebagian akan mengembung kembali kemudian masuk ke dalam campuran simplisia kembali, dan sebagian ada yang menguap.
- Soxhletasi
Mirip dengan refluks, namun menggunakan alat khusus yaitu esktraktor Soxhlet. Suhu yang digunakan lebih rendah dibandingkan dengan refluks. Metode ini lebih hemat dalam hal pelarut yang digunakan.
- Coque
Penyarian dengan cara menggodok simplisia menggunakan api langsung. Hasil godokan setelah mendidih dimanfaatkan sebagai obat secara keseluruhan (termasuk ampas) atau hanya digunakan hasil godokannya saja tanpa menggunakan ampasnya.
- Seduhan
Dilakukan dengan menggunakan air mendidih, simplisia direndam dengan menggunakan air panas selama waktu tertentu (5-10 menit) seperti halnya membuat teh seduhan.
Metode ekstraksi dingin dilakukan ketika senyawa yang terdapat dalam simplisia tidak tahan terhadap panas atau belum diketahui tahan atau tidaknya, antara lain:
- Maserasi
Ekstraksi dilakukan dengan cara merendam simplisia selama beberapa waktu, umumnya 24 jam dalam suatu wadah tertentu dengan menggunakan satu atau campuran pelarut.
- Perkolasi
Perkolasi merupakan ekstraksi cara dingin dengan mengalirkan pelarut secara kontinu pada simplisia selama waktu tertentu. 

· Proses Ekstraksi
Proses saat ekstraksi menentukan hasil ekstrak. Beberapa proses ekstraksi menghendaki kondisi yang terlindung dari cahaya, ini terutama pada proses ekstraksi bahan-bahan yang mengandung kumarin dan kuinon. Ekstraksi bisa dilakukan secara bets per bets atau secara kontinu. Pada ekstraksi skala industri, umumnya dilakukan secara kontinu. Ekstraksi bisa dilakukan secara statik (tanpa pengadukan) atau dengan proses dinamik (dengan pengadukan). 

Jenis-jenis Ekstrak
Terdapat beberapa jenis ekstrak baik ditinjau dari segi pelarut yang digunakan ataupun hasil akhir dari ekstrak tersebut.
· Ekstrak air
Menggunakan pelarut air sebagai cairan pengekstraksi. Pelarut air merupakan pelarut yang mayoritas digunakan dalam proses ekstraksi. Ekstrak yang dihasilkan dapat langsung digunakan atau diproses kembali seperti melalui pemekatan atau proses pengeringan.
· Tinktur
Sediaan cari yang dibuat dengan cara maserasai ataupun perkolasi simplisia. Pelarut yang umum digunakan dalam proses produksi tinktur adalah etanol. Satu bagian simplisia diekstrak dengan menggunakan 2-10 bagian menstrum/ekstraktan.
· Ekstrak cair
Bentuk dari ekstrak cair mirip dengan tinktur namun telah melalui pemekatan hingga diperoleh ekstrak yang sesuai dengan ketentuan farmakope.
· Ekstrak encer
Dikenal sebagai ekstrak tenuis, dibuat seperti halnya ekstrak cair. Namun kadang masih perlu diproses lebih lanjut.
· Ekstrak kental
Ekstrak ini merupakan ekstrak yang telah mengalami proses pemekatan. Ekstrak kental sangat mudah untuk menyerap lembab sehingga mudah untuk ditumbuhi oleh kapang. Pada proses industri ekstrak kental sudah tidak lagi digunakan, hanya merupakan tahap perantara sebelum diproses kembali menjadi ekstrak kering
· Ekstrak kering (extract sicca)
Ekstrak kering merupakan ekstrak hasil pemekatan yang kemudian dilanjutkan ke tahap pengeringan. Prose pengeringan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara yaitu:
o Menggunakan bahan tambahan seperti laktosa, aerosil
o Menggunakan proses kering beku, proses ini mahal
o Menggunakan proses proses semprot kering atau fluid bed drying
· Ekstrak minyak
Dilakukan dengan cara mensuspensikan simplisia dengan perbandingan tertentu dalam minyak yang telah dikeringkan, dengan cara seperti maserasi.
· Oleoresin
Merupakan sediaan yang dibuat dengan cara ekstraksi bahan oleoresin (mis. Capsicum fructus dan zingiberis rhizom) dengan pelarut tertetu umumnya etanol.

Proses Ekstraksi Skala Industri
Terdapat beberapa tahapan dalam proses ekstraksi skala industri, meliputi:
· Penghalusan/ penggilingan simplisia
· Ekstraksi tanaman obat
· Pemurnian ekstrak
· Pemekatan ekstrak
· Pengeringan ekstrak
· Standardisasi ekstrak
· Pengemasan

Standardisasi Ekstrak
Ekstrak yang dihasilkan dalam skala industri harus merupakan ekstrak yang sudah terstandar sesuai dengan ketentuan yang berlaku (mengacu pada MMI atau kompendia yang lain seperti Farmakope). Komponen standardisasi ekstrak meliputi:
· Pengujian makro dan mikroskopik untuk identitas
· Pemeriksaan pengotor/ zat asing organik dan anorganik
· Penentuan susut pengeringan dan kandungan air
· Penentuan kadar abu
· Penentuan kadar serat
· Penentian kadar komponen terekstraksi (kadar sari)
· Penentuan kadar bahan aktif/ senyawa penanda
· Penentuan cemaran mikroba dan tidak adanya bakteri patogen
· Pemeriksaan residu pestisida.

PERAWATAN KULIT HERBAL DAN ALAMI

Selamat datang di dunia kosmetik herbal, halal, cantik, murah dan menyehatkan.
Kosmetik yang terbuat dari bahan-bahan herbal pilihan yang diformulasikan  khusus untuk perawatan tubuh dan wajah anda, tidak menggunkan bahan yang berasal dari binatang yang diharamkan oleh syariat. Menggunakan bahan yang diajarkan oleh para nabi  thibbun nabawi  dan warisan ulama islam.

Kosmetik halal merupakan hal terpenting yang harus kita perhatikan. Hal ini penting bagi pemeluk agama islam karena dewasa ini banyak kosmetik yang beredar menggunakan bahan-bahan yang tidak halal menurut islam. Hal ini sangatlah penting bagi anda untuk anda ketahui karena ini adalah barang yang anda gunakan sehari-hari. Kita harus selektif dalam memilih kosmetik yang akan kita gunakan karena hal ini sangat penting untuk anda ketahui. Bagaimanapun, ini adalah masalah penting yang patut anda ketahui dan patut untuk anda mengerti untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan juga aman bagi kesehatan anda


Menjadi cantik dan menarik tidak perlu mengorbankan kesehatan, berikut adalah produk yang kami dedikasikan untuk perawatan dan kecantikan kulit. Untuk masa datang akan diformulasikan produk pengobatan dari dalam untuk kesehatan kulit

NATURAL SKIN CARE

Natural skin care is the care of the skin (the largest organ of the body) using naturally-derived ingredients (such as herbs, roots, essential oils and flowers) combined with naturally occurring carrier agents,preservatives, surfactants, humectants and emulsifiers (everything from natural soap to oils to pure water). The classic definition of natural skin care is based on using botanically sourced ingredients currently existing in or formed by nature, without the use of synthetic chemicals, and manufactured in such a way to preserve the integrity of the ingredients.
As a result of this definition, many people who use natural skin care products, generally make their own products at home from naturally occurring ingredients. While there are many wives' tales surrounding the benefits of certain ingredients, scientific studies have proven that such ingredients as Chamomile have demonstrated healing and anti-inflammatory properties when applied topically.[citation needed] Many people use natural skin care recipes to make remedies to care for their skin at home. Many spas and skin care salons now focus on using more naturally-derived skin care products.
History
Natural skin care has its roots in the 4th millennium BC in China and the Middle East. It is believed that the Egyptians developed many natural skin care treatments for a variety of skin conditions. One such treatment consists of bullock's bile, whipped ostrich eggs, olive oil, dough and resin mixed with milk. In the modern age many people with unique skin types and needs (sensitive skin, dry skin, oily skin) have turned to natural skin care solutions.
Some examples of natural skin care ingredients include jojoba, safflower oil, rose hip seed oil, shea butter, beeswax, witch hazel, aloe vera,tea tree oil, and chamomile. Many of these natural ingredient combinations can be tailored specifically to the individual's skin type or skin condition.
There is, however, no actual definition of natural according to the U.S. Food and Drug Administration (FDA). All ingredients are chemicals by definition. "Derived" ingredients are unnatural both according to the original substance and the method of derivation.
The term natural has considerable market value in promoting skin care cosmetic products to consumers, but dermatologists say it has very little medical meaning and the FDA states the claim has no legal meaning. Despite pressure from advocacy groups such as The Environmental Working Group (EWG) the FDA has not defined what natural is or how to achieve it. Contrary to popular belief the FDA does not regulate the sale of skin care and cosmetic products before they are sold.
The FDA recommends understanding the ingredient label and says "There is no list of ingredients that can be guaranteed not to cause allergic reactions, so consumers who are prone to allergies should pay careful attention to what they use on their skin", further warning that "[t]here is no basis in fact or scientific legitimacy to the notion that products containing natural ingredients are good for the skin". Food preservatives are commonly used to preserve the safety and efficacy in these products.

Ayurvedic skin care
Ayurvedic skin care is derived from medicinal practices that began over 5,000 years ago in India. Ayurvedic medicine and healing practices are based on Indian philosophical, psychological, conventional, and medicinal understandings. Ayurvedic approach to skin care is holistic and considers the mind, body, and spirit together. Ayurvedas practices the belief that there are three basic principles or humors born out of five basic elements that exist in nature. These principles are known as Vata, Pitta, and Kapha. These principles are believed to work together in harmony to make up the entire body.
Ayurvedic skin types
In Ayurvedic skin care there are seven different types of constitution that govern skin and hair types: Vata, Pitta, Kapha, Vata-Pitta, Vata-Kapha, Pitta-Kapha, or Vata-Pitta-Kapha. Most people fall into a combination of two of the three principles.
Ayurveda advises to modify one's diet, exercise, lifestyle and supplements according to one's constitution of these three humors. Most of the skin care products contain the following herbs - aloe vera, almond, avocado, carrot, castor, clay, cocoa, coconut oil, cornmeal, cucumber, cutch tree, emu oil, ginkgo biloba, ginseng, grape seed oil, ground almond and wallnut shell, horse chestnut, witch hazel and honey.
Honey skin care
Honey's natural antioxidant and anti-microbial properties and ability to absorb and retain moisture have been recognised and used extensively in skin care treatments as they help to protect the skin from the damage of the sun's rays and rejuvenate depleted skin.
Shea butter skin care
Shea butter is derived from the kernel of the "Karite" tree. Shea butter is known for its cosmetic properties as a moisturizer and emollient.
Jojoba skin care
Jojoba skin care is a natural remedy. Jojoba is a natural moisturizer for the skin. The oil is similar to the natural sebum of whale. Jojoba is actually a liquid wax that becomes solid below room temperature, but is known as an oil.
Algae skin care
Algae polysacchride is a very good natural moisturizer and can be used in natural cosmetis as humectants. Algae has a high ability to emulsify oil, hence the skin would not be that oily. Skin care treatments, for example Chlorella, uses such properties of algae to clean corneous cells, sebum, and remove pimples quickly.
Ingredients
Soap can be produced by mixing water and lye with olive oil castille soap and also coconut oil to produce a natural and mild soap. 

A shampoo can be produced by mixing water, with a mild surfactant such as decyl glucoside, a plant gum like xanthan gum as a thickener, salt, and emmolients such as coconut oil, vegetable glycerin, honey and essential oils. Natural surfactants include Quillaja saponaria, Acacia concinna or Sapindus. Many other herbs have conditioner effects on the hair such as nettles or amla. A body butter can be produced by mixing oils (such as a base of olive and coconut oils) with beeswax. A natural body lotion can be produced by mixing water and lecithin, cocoa or coconut butter, and dry oils such as grapeseed oil or thistle oil, beeswax, plant extracts such as witch hazel, calendula oraloe vera, hydrosols and essential oils. A natural toothpaste can be made by mixing baking soda, glycerin and water as a paste, with some antibacterial (e.g. sage) essential oils. Natural preservatives is cosmetics are a controversial issue; these might include vitamin E (only protects oil shelf-life, not against bacteria or mold), rosemary oil, neem oil, tea tree oil, honey, propolis, salt, vinegar, lemon juice or green tea extracts, or by eliminating the use of water. ( WIKI )

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

pelatihan tinta inkjet

kursus membuat sabun transparan

HUBUNGI ; Pakde jongko
Perum Korpri no 188 Popongan Karanganyar  Jateng
08176540345, wa081226044249
email :